Minggu, 31 Agustus 2014

Pengalaman Pertama Menjelajah Negara Asing

Mei 2012 lalu adalah bulan yang penuh kenangan bagiku. Aku niatkan diriku dari tahun 2011, untuk mengumpulkan uang hasil kerja untuk bertualang ke negara tetangga Singapura. Ini menjadi semacam gerbang pembuka untuk langkah aku pergi melihat dunia luar. Awalnya aku hanya mengusulkan niatanku ini ke seorang kawanku. Tidak disangka responnya sangat cepat dan kami niatkan diri kami untuk pergi kesana secara mandiri. Kami berburu tiket AirAsia promo ke Singapura dari bulan September 2011, dan mendapatkan tiket promo yang sangat murah untuk keberangkatan Mei 2012. Waktu itu, kami hanya mengeluarkan uang sebesar 650 ribu per orang, itu sudah biaya tiket pulang pergi. Setelah tiket sudah di tangan, selanjutnya kami bersiap melengkapi berkas-berkas untuk pembuatan paspor. Kawanku lah yang mengabariku lebih dulu bahwa paspor dia sudah jadi. Ya ampun, aku sendiri malah yang belum buat. Akhirnya akhir Desember 2011, bertepatan dengan libur tahun baru dari kantor, aku pergi ke imigrasi untuk mengurus pembuatan paspor. Secara administrasi, proses pembuatannya tergolong cepat. Aku mengikuti proses pembuatan yang normal tanpa jalur cepat, jadi harganya ya harga normal saja. Aku banyak minta info dari kawanku yang sudah lebih dulu membuat paspor, mengenai cara-caranya dan kelengkapannya. Jadi ketika sampai di kantor imigrasi Jakarta Kota, semua berkasku telah lengkap dan prosesnya pun menjadi lancar.

Paspor sudah di tangan, ah sudah aman. Tinggal memikirkan mengenai proses pemesanan hotelnya. Kawanku yang sudah lebih dulu ke Singapura memberi rekomendasi satu hotel di Singapura yang sudah terkenal dan jaringannya banyak dimana-mana. Dan yang paling penting, biaya menginapnya pun murah. Akhirnya, aku mendapatkan hotel yang murah di daerah Geylang. Ya, walaupun memang sudah terkenal sebagai kawasan red district, tapi setidaknya Singapura adalah negara yang tergolong aman. Jadi aku bawa santai saja. Maret 2012 aku sudah booking hotel untuk kami berdua menginap. Berarti tinggal mematangkan rencana perjalanan selama nanti bertualang disana. Aku sudah mencari tahu tentang tujuan-tujuan wisata yang menarik di Singapura dari semenjak aku membeli tiket. Aku banyak belajar dari pengalaman kawanku yang sudah lebih dulu kesana. Mencari referensi dari buku-buku perjalanan dan membaca cerita-cerita dari blog orang makin membuat aku antusias dan tidak sabar untuk menjejakkan kaki di negeri Singa putih tersebut. Peraturan seputar denda disana juga menjadi peringatan yang harus kuingat baik-baik. Karena jangan sampai, rencana perjalanan hemat jadi buyar hanya karena terkena denda disana. Jadi, sebelum datang ke suatu negara, paling tidak kita harus cari tahu dulu peraturan di negara tersebut. 

Akhirnya bulan Mei yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Aku sudah membayangkan betapa antusiasnya kami berdua nanti disana. Aku dan kawanku bertemu langsung di bandara Soekarno Hatta. Kami sama-sama naik bis damri dari kota asal kami. Aku dari Bekasi dan kawanku dari Bogor. Pesawat AirAsia tujuan Singapura berangkat pukul 2 siang WIB. Kemudian kami tiba di bandara Changi sudah lumayan sore, sekitar pukul 5 waktu Singapura. Kami langsung menuju ke hotel kami di daerah Geylang dengan menaiki MRT dari bandara. Kami menghabiskan malam itu di hotel saja, sembari mengumpulkan tenaga untuk berkeliling Singapura keesokan harinya.



Selama mengitari Singapura dalam waktu 2 hari penuh itu, banyak hal menarik yang aku dapat. Tentunya selain bisa berpose di depan lambang Universal Studio, aku juga mempelajari sedikitnya budaya negara tersebut. Ketika berjalan di dalam stasiun, aku lihat masyarakat lokal disana berjalan dengan cepat. Aku yang mengikutinya ritmenya saja jadi lumayan terengah-engah. Lalu saat aku mengunjungi kebun rayanya, aku menemukan aktivitas yang sangat menarik. Anak-anak SD disana sudah diajari untuk mengumpulkan sampah dan menjaga lingkungan. Kami pun termasuk pengunjung yang dimintai oleh anak-anak tersebut apabila ada sampah yang ingin dibuang. Tempat sampah yang mereka bawa sangat lucu-lucu, bergambar warna-warni, menjadikan kegiatan tersebut jadi terasa menyenangkan.

 Anak-anak ditemani gurunya, sedang melakukan aktivitas mengumpulkan sampah

Disana, air minum harganya juga lumayan menguras isi dompet. Jadi kami putar otak untuk mengakalinya. Dalam perjalanan menuju Pulau Sentosa, kami mampir dulu ke supermarket Giant yang ada di Mall Vivo City. Disana kami membeli air minum botol yang berukuranan 1 liter sebagai persediaan. Dan tak lupa kami juga membeli persediaan roti dan susu untuk persediaan kalau malam belum sempat mencari makan. Untuk bekal air keesokan harinya, kami masak air dulu pagi-pagi sebelum berangkat dengan menggunakan termos air panas yang disediakan di kamar hotel. Jadi, setelah bangun pagi, aku langsung masak air.


Untuk masalah oleh-oleh, kami mengakalinya dengan belanja di malam hari kedua. Jadi biar urusan belanja cepat beres dulu. Kami mengitari jalan sepanjang China Town untuk mencari souvenir yang murah meriah. Sebelumnya kami juga mampir ke Mustafa Center untuk belanja coklat. Kami ingat betapa senangnya kami bisa menemukan masjid di dekat Mustafa Center untuk temanku beribadah. Di toko Daiso yang ada di mall Vivo City, mata kami hijau melihat barang-barang unik yang dijual di sana. Maklum semua barang dijual seharga 2 SGD saja. Jadi, saat itu kalau dirupiahkan, harga semua barang hanya sekitar 15 ribuan saja. Dari pernak pernik sampai kebutuhan rumah tangga, semuanya dibandrol rata. Aku juga sempat bertemu dengan orang Indonesia di daerah Orchard, dan beliau membantu kami memberi tahu arah jalan. Tapi aku sendiri sempat juga dimintai petunjuk arah saat di stasiun, oleh seorang ibu-ibu India yang datang bersama rombongannya. Jadi lumayan seru, banyak pengalaman menyenangkan yang kudapat disana.


Tapi yang paling kuingat adalah aku jadi lebih mengenal diriku sendiri lewat perjalanan kali ini. Aku yang mudah panik ini, jadi harus belajar sabar, lebih bisa mengendalikan emosi dan bisa membuat perjalanan seberat apapun tetap terasa asik. Untungnya kawanku adalah seorang yang sangat pengertian dan bisa melengkapiku. Kami berdua banyak berjalan kaki selama bertualang disana. Sampai-sampai pinggangku rasanya mau patah di malam terakhir kami disana, dan kawanku juga sampai memakai koyo untuk menghilangkan rasa penat di kaki dan punggungnya. Aku sangat mengucap syukur karena diberikan teman perjalanan yang seperti kawanku ini.

Aku dan kawan seperjalananku, Ulan

ini adalah langkah pertamaku untuk menjelajah negeri asing. Dan bertualang rasanya menjadi seperti candu, yang membuat aku ingin terus melangkahkan kaki menuju lebih banyak tempat lagi yang menarik di dunia ini. Semoga.

AirAsia telah ikut mengubah cerita di hidupku. Bagaimana dengan kalian?


Cheers,







*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog “Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?” dalam rangka 10 tahun AirAsia Indonesia

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...